Internet "tidak" untuk Semua Orang

Sumber : https://nation.com.pk/19-Mar-2017/blasphemy-and-the-internet

Ketika membicarakan tentang akses internet tentu semua orang sudah tidak asing dengan hal itu, khususnya anak muda di Indonesia. Akses internet saat ini sudah menjadi kebutuhan bagi setiap orang dan bagi setiap kalangan. Entah itu orang kaya, maupun orang miskin, rasanya internet sudah tidak menjadi hal yang asing. Contoh kasus yang baru saja saya temui. Saya ibu penjual nasi rames di daerah Grendeng sedang bermain HP. Dan ketika saya bertanya apa yang sedang ia lakukan sembari menunggu pelanggan. Ibu penjual nasi ramespun menjawab bahwa ia menunggu pelanggan sambil bermain gadgetnya, dan ia biasa membuka instagram.
Wah, sungguh tidak mengherankan lagi bahwa saat ini semua orang sudah familiar dengan yang namanya Smartphone dan juga akses internet. Namun apakah akses internet di Indonesia ini sudah merata dari seluruh daerah, segala usia, segala pekerjaan dan juga semua jenis kelamin?
Jika kita lihat faktanya  menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (2017) menyatakan bahwa penggunaan akses internet di Indonesia jika dibedakan berdasarkan tingkatan usia maka hasilnya tidak merata. Remaja usia 13-18 tahun sebanyak 75.5% menggunakan akses internet, sebanyak 74.23% orang dewasa yang berusia 19-34 tahun menggunakan internet. Namun hanya 15.72% dari orang tua berusia lebih dari 54 tahun yang menggunakan akses intenet.
Data tersebut menunjukkan bahwa penyebaran akses Internet di Indonesia berdasarkan usia belum merata.
Contoh kasus dari cerita lama yang pernah saya baca adalah ketika ada kasus seperti berikut :
Ketika sang cucu sedang mandi, tiba-tiba suara hapenya berbunyi. Kemudian neneknya pun mendengar ada suara dari telepon sang cucu. Lalu sang nenek bertanya :
Nenek : cu, ini hapemu keluar lagunya.
Cucu : oalah, itu telepon nek.
Nenek : telepon dari siapa cu?
Cucu : nggak tahu nek, coba diangkat aja.
Sang nenekpun mengangkat hapenya, namun telepon itu masih berbunyi. Iapun heran dan bertanya dari cucunya.
Nenek : sudah nenek angkat tapi masih bunyi.
Sang cucupun keluar dari kamar mandi dan heran ternyata nenek benar-benar mengangkat teleponnya tinggi-tinggi, bukan menerimanya.

Dari cerita tersebut saya berpandangan, bahwa orang tua yang ada di Indonesia terutama yang sudah lanjut usia rata-rata merasa asing dan aneh dengan teknologi tersebut. Menurut Van Dijk (1991) dijelaskan bahwa salah satu hal yang menghambat penetrasi akses internet adalah Orang, terutama orang tua dan tidak terampil, diintimidasi oleh teknologi baru atau mengalami pengalaman pertama yang buruk dengannya,
Orang tua yang asing dengan adanya teknologi baru tentu akan merasa tidak ingin mengenali atau mempelajari teknologi yang ada. Kebanyakan orang tua yang merasa asing cenderung menganggap teknologi justru sebagai ancaman.
Indonesia menurut data di kominfo.go.id (2014) menempati posisi ke-6 pengguna internet terbanyak diseluruh dunia setelah Jepang. Itu artinya jika dibandingkan dengan negara lain, seharusnya akses internet di Indonesia sudah merata. Karena dari seluruh penduduk pada thun 2014 yaitu 255.1 juta penduduk Indonesia ada  83.7 juta penduduk yang menggunakan akses internet. Jika dibandingkan maka 1dari 3 orang masyarakat Indonesia sudah menggunakan akses internet. Data tersebut bertambah pada tahun ini. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (2018) penduduk Indonesia yang menggunakan akses internet ada sekitar 143 juta penduduk dengan jumlah penduduk yang saat ini sekitar .  Namun apakah jumlah tersebut sudah merata di seluruh pelosok negeri ?
Kita lihat faktanya, persebaran akses internet di Indonesia menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (2016) menyebutkan bahwa :

Gambar 1. Data Penetrasi Pengguna Internet Indonesia 2016

Data tersebut menunjukkan bagaimana Pulau Jawa merupakan wilayah yang paling makmur dalam hal akses internet. Akses internet di pulau Jawa dibanding dengan Maluku dan Papua sangat berbeda jauh. Ketika 65% penduduk Jawa menggunakan akses internet, ternyata di daerah Maluku dan Papua hanya sekitar 2,5% penduduknya yang menggunakan internet.

Gambar 2. Beirta dari presiden.go.id
Ketika melihat berita di presiden.go.id  (2015) bahwa Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2015-2019, Indonesia memiliki tantangan membangun perkotaan sebagai pusat-pusat pertumbuhan yang diarahkan untuk mewujudkan kota-kota berkelanjutan dan berdaya saing.  Berita tersebut menunjukaknbahwa akses internet di daerah Mauku dan papua pada tahun 2019 menjadi fokus pembangunan. Berdasarkan dari berbagai berita yang saya baca maka saya mengerti bahwa permasalahan akses di Indonesia adalah masalah fasilitas yang belum tersedia.
Itu artinya persebaran internet di Indonesia berdasarkan lokasi atau penyebaran wilayahnyapun belum merata.
Kesenjangan akses di Indonesia semakin terlihat ketika melihat kenyataan bahwa remaja Indonesia sudah semakin canggih dalam menggunakan akses internet. Koneksi Internet saat ini sudah menjadi hal yang sangat penting bagi remaja. Bahkan media sosial sudah ramai dipenuhi oleh akun-akun anak muda bahkan anak dibawah umur sekalipu. Melihat fenomena ini maka sungguh miris persebaran koneksi internet di Indonesia yang tidak merata.
Untuk kaum yang sudah menggunakan internet. Internet disebut sebagai “forms of expression  yaitu dimana internet juga berfungsi sebagai sarana untuk mengekspresikan diri kita melalui halaman web pribadi atau bisa pula dengan mengembangkan jalinan hubungan antara teman-teman maupun dengan keluarga. Contohnya adalah adanya akun-akun di berbagai media sosial yang dipenuhi dengan status sebagai bentuk ekspresi diri. Status yang diunggahpun bermacam-macam, dari mulai galau hinggabahagia. Rasanya benar jika mengutip Civin (1999) yang mengemukakan tentang bentuk-bentuk baru ekspresi secara online juga termasuk teks virtual, identitas maya alternative, dan hacker.
Namun untuk kaum yang sangat gaptek atau dalam hal ini orang yang belum mendapatkan akses internet dengan baik. Maka internet dirasa asing dan juga tidak begitu penting dalam kehidupannya. Bahkan ada beberapa orang yang merasa anti dengan akses internet.

Dari hal tersebut kitabisa melihat bagaimana  keadaan akses internet di Indonesia saat ini. Apakah intenet untuk semua orang atau tidak.? Anda dapat menentukan dari sudut pandang amsing-masing.

Selamat berseluncur didunia maya ! jangan sampai terlena !


DAFTAR PUSTAKA :
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. Infografis Penetrasi & Perilaku Pengguna Internet Indonesia Survey 2017 :1-39
Hidayat, D Yayat. 2014. “Kesenjangan Digital di Indonesia (Studi Kasus di Kabupaten Wakatobi) Digital Divide in Indonesia (Case Study in Wakatobi-Regency)”. Jurnal Pekommas, Vol. 17 No. 2 :81-90
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006. Handbook of New Media : Social Shaping and Social Consquences of ITCs. London : Sage Publication Ltd.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara Milenial Banyumas da(Menakar perilaku politik generasi milenial pada Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Banyumas pada Tahun 2018

Kirab 1