Media online, Tempat “Nongkrong” Pertama Atau Kedua?
Apakah
Media Online lebih digemari?
Akhir-akhir
ini aku mulai kuwalahan dengan grup di salah satu akun sosial mediaku. Grup
line yang aku punya saat ini sudah mencapai angka 80. Bisa dibayangkan
bagaimana sibuknya aku mengikuti semua komunitas yang aku punya. Dan entah
mengapa hampir semua grup itu selalu aktif dengan obrolan anggota didalamnya.
Grup
teater Sianak, Grup SEF 2017, Grup SEF 2018, grup SMK, Grup Kelas, Grup
perempuan di kelas, grup tugas, semua penuh dengan obrolan yang terkadang
penting terkadang tidak. Namun apapun obrolan didalamnya tentu jika kita ingin
akrab maka haruslah berpartisipasi. Tak jarang aku ketinggalan informasi yang
justru penting karena banyaknya grup dan juga obrolan yang sudah menumpuk.
Obrolan yang menumpuk digrup terkadang kubaca namun tak jarang hanya ku buka
untuk menunjukkan kehadiranku di grup.
Baru
hari kemaren aku belajar tentang virtual community. Buku dari Leah A. Lievrouw
& Sonia Livingstone (2006) yang berjudul Handbook
of New Media : Social Shaping and Social Consquences of ITC’s. Buku ini membuat aku
penasaran. Didalam buku itu membuka pandanganku tentang apa sebenarnya yang
dimaksud dengan era new media yang saat ini kabarnya sedang terjadi. Dan
ternyata era ini sudah pernah dibahas oleh beberapa ahli, sekian tahun sebelum
hal itu terjadi.
Hal
yang menjadi pertanyaan besar untukku saat ini adalah, mengapa komunitas yang
ada justru lebih aktif di sosial media daripada ketika berkumpul. Kadang aku
melihat pula temanku yang pendiam di kelas bisa sangat aktif di sosial media.
Apakah ada identitas baru yang diciptakan atau memang dunia media sosial lebih
membuat nyaman bagi mereka untuk berekspresi?
Apa dampak media baru?
Pada
saat ini, kita tahu bahwa isu tentang media menjadi hal yang menarik. Namun isu
tentang perkembangan media ini tentunya memiliki dampak yang positif maupun
negatif. Untuk dapat mengontrol diri ketika menggunakan media sosial maka kita
perlu mengetahui dan intropeksi diri tentang kecenderungan dampak yang
dirasakan yaitu :
Media
pendidikan, ekonomi dan pembangunan kualitas hidup
Dampak
positif dari kehadiran (teknologi) media adalah bahwa teknologi media
dapat meningkatkan
sumber daya manusia dalam aspek pendidikan, ekonomi, pembangunan dan kualitas hidup
manusia. Adanya teknologi media membuat individu dapat mencapai kesetaraan
dalam masyarakat, misalnya ketika saya pertama kali memiliki smartphone, maka
teman-teman saya yang memakai smartphone mengajak saya untuk gabung di grup
whatsapp, grup line dan grup lainnya. Hal tersebut membuat saya merasa setara
karena dapat mengikuti informasi yang di share melalui whatsapp.
Membantu
melacak tindak cybercrime
Teknologi
media juga dapat mengurangi tindakan criminal yang ada dalam masyarakat. Karena
saat ini tindakan kejahatan dapat dilacak menggunakan media baru.
Selain
dampak positif, tentunya media baru juga memiliki konsekuensi yang negatif
antara lain :
Menumbuhkan
sikap individual
sumber : http://www.tribunnews.com/lifestyle/2016/02/26/rata-rata-orang-indonesia-habiskan-waktu-55-jam-main-hp-dari-bangun-hingga-beranjak-tidur
Teknologi
media membuat manusia memiliki sikap individual. Adanya teknologi yang praktis
membuat individu sibuk dengan urusanya pribadi. Contohnya bisa kita lihat di
masyarakat saat ini, ketika berkumpul dengan teman-teman, kebanyakan dari
justru mengurung dirinya dengan hapenya sehingga mengurangi kebersamaan. Ibarat
kata dekat dimata jauh dihati. Karena pikiran mereka masing-masing berada pada
hape pintarnya. Dan hal itu pula yang menjadi keresahanku akgir-akhir ini.
Terkadang aku berkumpul dengan teman-temanku namun kita sama-sama mengetik di
grup kelas. Lucu bukan?
Konsumerisme
Adanya
media online khususnya online shop membuat mudah akses kita untuk berbelanja
kebutuhan apapun. Namun kemudahan itu tentunya membawa dampak buruk yaitu
menimbulkan kecanduan. Kecanduan belanja online tentunya menyebabkan sikap
konsumerisme.
Media
online menjadi pilihan pertama atau kedua?
Jika
boleh berangapan, maka tanggapan pribadiku tentang media online adalah bahwa
media online sekarang menjadi prioritas bagi sebagian orang. Ketika aku membaca
chapter 2 buku Leah
A. Lievrouw & Sonia Livingstone (2006) ini, aku menemukan istilan new media. Menurut
McQuail (1994:20-6) karakteristik media baru umumnya melibatkan desentralisasi
saluran untuk distribusi pesan, peningkatan pilihan yang tersedia agar
penonton/penggunadapat terlibat dalam komunikasi proses, seringkali yang
melibatkan bentuk interaktif komunikasi, dan peningkatan yang flexibilitas
derajat untuk menentukan bentuk dan isi melalui digitalisasi pesan. Ya, hal itu
tepat sama dengan komunitas soisial media. Itu artinya memang benar kita berada
pada zaman media baru atau new
media era.
Jika
kita melihat lagi tahap perkembangan kajian ‘media’ dan ‘community’ maka saat
ini kita berada di gelombang ketiga yaitu
( Era Internet ). Dalam chapter 2 buku Leah A. Lievrouw & Sonia Livingstone
(2006) ini disebutkan bahwa Benedikt’s (1991) menjelaskan tentang Cyberspace. Dunia cyber yang sekarang sedang
dipenuhi oleh makhluk-makhluk era media baru.
Saat ini media baru tampaknya menjadi tempat nongkrong
pertama buat orang-orang yang kecanduan. Dunia cyber menjadi tempat pertama
untuk bersosialisasi. Apalagi dengan adanya virtual community. Istilah yang pertama kali dikemukakan oleh Howard Rheingold
dalam The Virtual Community : Homesteading on The Electronic Frontier
(2000) ini menjadi semakin akrab bagi masyarakat Indonesia. Howard
Rheingold menyebutkan bahwa :
“Orang-orang di komunitas virtual menggunakan kata-kata di
layar untuk bertukar basa-basi dan berdebat, terlibat dalam wacana intelektual,
melakukan perdagangan, pertukaran pengetahuan, berbagi dukungan emosional,
membuat rencana, brainstorming, gosip, perseteruan, cinta yang buruk,
menemukan teman dan kehilangan mereka, bermain game , menggoda, membuat sedikit
seni tinggi dan banyak omong kosong. Orang-orang di komunitas maya
melakukan hampir semua hal yang dilakukan orang dalam kehidupan nyata, tapi kita
meninggalkan tubuh kita. Anda tidak bisa mencium siapapun dan tidak ada yang
dapat memukul muka anda, tapi banyak yang bisa terjadi dalam batas-batas
itu (1993b: 3)”.
Pada tahun 1993, Howard bahkan sudah menggambarkan dunia
yang akan terjadi saat ini. Sehingga
jawaban apakah media online menjadi prioritas utama atu kedua tergantung dari
bagaimana individu memanfaatkannya.
Seberapa intenskah kita memanfaatkan media online, dan
seberapa besarkah dampaknya untuk kehidupan, itu yang perlu diperhatikan.
Sekian ceritaku hari ini, selamat
bermedia online tanpa meninggalkan dunia!
DAFTAR PUSTAKA :
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone.
2006. Handbook of New Media :
Social Shaping and Social Consquences of ITCs. London : Sage Publication Ltd.
Soliha, Silvia Fardila. 2015. Tingkat
Ketergantungan Pengguna Media Sosial Dan Kecemasan Sosial. Jurnal Interaksi,
Vol.1 No,4 :1-10
Prasgunanto, Ilham. 2015. Pengaruh Sosial
Media Terhadap Tingkat Kepercayaan Bergaul Siswa The Effect Of Social Media On
Confidence Level Associate Students. Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini
Publik Vol. 19 No. 2,: 101-112

Komentar
Posting Komentar